Top Ads 1

Viral! Sultan Karawang Raup Omset Rp25 Juta Per Hari dari Tol Sungai

Redaksi
Kamis, 13 Januari 2022 | 18.56 WIB Last Updated 2022-01-13T11:56:08Z

Sosok Haji Endang "Sultan Karawang" pemilik jembatan perahu/Stockup


BERKARIRMEDIA - Sosok nama Haji Endang mendadak viral berkat jembatan yang dibuatnya meraup omset per hari minimal mencapai Rp25 juta.

Haji Endang adalah pemilik dari jembatan perahu yang menggabungkan dua wilayah yakni Desa Parung Mulya dengan Desa Anggadita di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Jembatan tersebut setiap harinya dilewati sekitar 10.000 pemotor dengan tarif 2.000 rupiah sedangkan pejalan kaki bertarif 1.000 rupiah setiap kali menyebrang.


Meski sekarang sudah menjadi "Sultan Karawang" ternyata perjalanan Haji Endang membangun jembatan perahu yang beromset ratusan juta perbulan itu tidaklah mulus.

Berikut perjalanan kesuksesan bisnis Haji Endang sang "Sultan Karawang" :

Memulai karir dari nol dan tidak tamat SMP

Nama Haji Endang adalah sosok pemilik dari ide jenius jembatan perahu ternyata bukan lahir dari latar pendidikan teknik sipil, tapi bahkan sekolah setingkat SMP pun tidak lulus.

Haji Endang justru mengawali karirnya sebagai kenek oplet, lalu naik pangkat menjadi kenek truk serta pernah mengantar es balok jam 3 pagi.

Baru di tahun 1980an setelah menikah dan dikaruniai anak, pekerjaannya naik kelas sedikit menjadi supir angkot dan sang istri menjadi kenek dari mobil angkot milik orang lain.

Setelah itu, Haji Endang pindah menjadi supir mobil box pabrik. Tiga tahun berikutnya Haji Endang bekerja di pabrik sebagai office boy.

Tidak berniat dijadikan bisnis

Bisnis jembatan perahu ini dimulai pada tahun 2010, awalnya sebelum jadi jembatan Haji Endang membantu warga menyebrang dengan menggunakan satu perahu kayu yang diseret.

Awalnya juga Haji Endang tidak ada niatan berbisnis saat membantu warga menyebrang. Karena semakin diminati warga Haji Endang menambah perahunya menjadi dua.

Namun lama kelamaan setelah dijalani, ternyata ada peluang bisnisnya juga. Karena permintaan perahu eret ini semakin bertambah, tiba-tiba terlintas ide di pikiran Haji Endang untuk menjejerkan perahu.

Ide jenius yang di eksekusi


Akibat modal yang dibutuhkan jauh lebih besar, berkat rekan kenalannya yang bekerja di bank Haji Endang memberanikan diri untuk meminjam uang dari bank dengan jaminan sertifikat tanah.

Setelah dieksekusi ternyata idenya tidak berjalan mulus. Perahu kayu yang dijadikan landasan pelat besi tak mampu menghadapi sampah enceng gondok yang lewat karena jarak perahu hanya 1.8 m tapi lebar sampahnya bisa mencapai 5 m. Bahkan beberapa kali perahunya terbawa arus, karena saat itu perahu kayu nya hanya menggunakan baut dan akhirnya baut tersebut lepas.

Berani mengambil resiko

Karena biaya yang dibutuhkan untuk menyediakan satu pasang perahu sekitar Rp300 juta, Haji Endang memberanikan diri untuk meninjam uang ke bank kedua kalinya agar bisa membuat perahu yang lebih kokoh dan aman.

Barulah perahu sekarang yang terbuat dari besi jauh lebih aman dan kokoh. Hasilnya, jembatan perahu yang bisa dibongkar pasang ini kira-kira dalam sehari dilewati sekitar 10.000 pemotor.

Dibalik omset yang tinggi ada biaya maintenance yang besar

Meskipun omset per bulannya mampu mencapai minimal Rp750 juta, akan tetapi biaya perawatan atau untuk servis satu perahu bisa mencapai Rp20-25 juta.

Belum lagi ketika kedatangan sampah enceng gondok, jembatan bisa berhenti beroperasi dulu untuk beberapa saat. Selain itu ketika ada daerah sekitar terendam banjir, otomatis jembatan juga ditutup untuk sementara waktu.

Membuka mata pencaharian untuk banyak orang

Jauh sebelum adanya jembatan perahu, tadinya ini merupakan jalan buntu dan tidak banyak aktivitas lalu lalang di daerah tersebut. Namun semenjak adanya jembatan, Haji Endang bukan hanya memperkerjakan 40 karyawan, tapi juga membuka perekonomian untuk warga sekitar.

Kini di sekitar jembatan banyak warga yang bisa berjualan, bahkan ekonomi di sekitar kawasan  jembatan juga hidup dan Haji Endang juga tidak menghalangi warga yang ingin berbisnis di sekitarnya.

Kontribusi untuk masyarakat

Bagi sosok Haji Endang rezeki yang ia dapatkan dari jembatan perahu yang ia bangun ini bukan hanya miliknya pribadi. Maka dari itu, dulu sebelum ada jembatan perahu ini belum ada jalan, setelah menghasilkan ia membantu untuk memperbaiki jalan dan menjadikannya lebih layak dilewati.

Selain itu juga setiap tahunnya, Haji Endang memberangkatkan 8 orang untuk ibadah umroh baik dari karyawan, saudara maupun tetangganya. Setiap tahunnya juga Haji Endang biasanya membagikan sembako kepada 300 keluarga. Baginya, membagi rezeki adalah kewajiban.

Menariknya lagi, sosok Haji Endang ini dalam kesehariannya tidak terlihat seperti "Sultan Karawang".

Pak Haji sapaannya biasa mondar-mandir menggunakan kaos oblong dan celana pendek, bahkan hp yang dikeluarkan dari sakunya saja bukan smartphone tercanggih dari merek ternama.***



Editor: Pryo Ihsan Aji
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Viral! Sultan Karawang Raup Omset Rp25 Juta Per Hari dari Tol Sungai

Trending Now