Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kampanye Moderasi Beragama: Islam Rahmatallil'alamin

Nirma Ilmiyah Peserta DIKLATPIMNAS II PTKI Se-Indonesia Tahun 2021 Delegasi IAIN Pekalongan


BERKARIRMEDIA - Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia dilanda problem modernisasi. Salah satunya muncul kelompok-kelompok radikalisme yang menciderai kerukunan bangsa ini .

Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengatakan bahwa "Fenomena radikalisme intoleran di Indonesia yang terjadi saat ini mengalami kenaikan cukup signifikan."

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), aktivitas dan narasi kelompok radikal di masa pandemi Covid-19 meningkat hingga empat kali lipat dari sebelumnya.


Ternyata Masa pandemi dijadikan peluang besar pelaku untuk menebar narasi ekstrimisme di media online sebagai bahan peovokasi masyarakat.

Moderasi adalah solusi isu radikalisme saat ini . Ujaran kebencian yang diserukan tidak akan memicu perselisihan jika seluruh lapisan masyarakat membentengi diri dengan sikap moderat. 

Konsep moderasi dimaknai sebagai sikap tengah (tidak berlebihan dan tidak kekurangan) . Moderasi sebagai wujud khidmah manusia kepada agama,khidmah manusia kepada sesama manusia,serta khidmah manusia kepada negara.

Pada hakikatnya pemahaman moderasi tidak bisa hanya disyiarkan melalui teori namun perlu adanya tindakan. Tentunya Kalangan intelektual menjadi sorotan penuh masyarakat ditengah kegegeran ini.

IAIN Pekalongan sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang populer di jawa tengah dengan ribuan mahasiswa/i mempunyai peran besar dalam mensyiarkan nilai-nilai moderasi.

Salah satu budaya baru dilingkungan IAIN Pekalongan adalah hadirnya teras moderasi yang digalakkan oleh DEMA-IAIN Pekalongan.

Riril Widi Handoko Presiden Mahasiswa IAIN Pekalongan 2021


Menurut Rekan Riril Widi Handoko, selaku Presiden mahasiswa IAIN Pekalongan "Moderasi beragama bukan hanya jargon perdamaian, bukan hanya argumen untuk merangkai makna persaudaraan. Moderasi beragama bagi mahasiswa semestinya mampu menjadi gerakan sosial kebangsaan, merangkul dan membersamai dalam membangun budaya gotong royong, sehingga keberagaman yang katanya anugerah mampu diimplementasikan menjadi gerakan sosial. Sehingga pemuka agama , tokoh agama, pemimpin organisasi kemasyarakatan mampu bergerak bersama guna membuat teladan bagi masyarakat agar agama tidak hanya dipandang sebagai dakwah billisan akan tetapi mampu bilhaal. Keberagaman adalah keniscayaan maka gotong royong antar sesama adalah kesadaran yang harus di bangun secara kolektif, mahasiwa harus mampu belajar menjadi pelopor sejak prosesnya."

Teras moderasi mengundang spirit mahasiswa dalam bertoleransi dan kontra terhadap narasi ekstrimisme yang trending di media saat ini.

Perlu diketahui bahwa toleransi tercipta dimana kita menjadi satu tanpa memandang latarbelakang apapun.

Teras moderasi menghadirkan wadah moderasi beragama yang bertujuan menguatkan rasa kebhinekaan mahasiswa IAIN Pekalongan.

Rangkaian kegiatan teras moderasi adalah menjalin silah ukhuwah mahasiswa dengan para tokoh/organisasi keagamaan yang berasal dari berbeda aliran . Dengan adanya rasa persaudaraan yang kuat mampu mencetak generasi-generasi yang moderat.

Tidak cukup teras moderasi dikalangan mahasiswa namun lebih dari itu mahasiswa sebagai pioner sosial harus mampu menggerakan masyarakat.

Contohnya menyeru aksi baksos lintas iman sehingga mampu memberikan pendidikan moderasi secara nyata.

Baksos lintas iman akan menumbuhkan sikap moderat dalam bingkai kegiatan sosial kemasyarakatan. Banyak sekali gerakan untuk mengaktualisasikan sikap moderat.

Hal-hal seperti ini yang dibutuhkan untuk menakar narasi ekstrimisme dikehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.

 Jadi,dapat disimpulkan bahwa tradisi moderasi beragama harus dilestarikan sebagai bentuk perlawanan tantangan era modernisasi (revolusi industri 4.0). Bagaimana caranya ?

Konsep Islam moderat dapat diinternalisasikan dalam diri yakni tawassuth (berlaku adil ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang beragam),i'tidal (berintikan pada prinsip hidup tidak ekstrim ),tasamuh (sikap toleran dalam segala hal yang membedakan),tawazun (menyelaraskan segala kepentingan baik masa lalu,masa kini,atau bahkan masa depan),amar ma'ruf nahi munkar ( mendorong kebaikan mencegah kemunafikan).

Oleh: Nirma Ilmiyah (Peserta DIKLATPIMNAS II PTKI Se-Indonesia Tahun 2021) Delegasi IAIN Pekalongan.