Top Ads 1

Kampus Negeri Rasa Dinasti

Redaksi
Rabu, 25 Agustus 2021 | 10.54 WIB Last Updated 2021-08-25T03:54:06Z

Ilustrasi kelas di kampus/Pexels


BERKARIRMEDIAKampus-kampus negeri di Indonesia belum banyak yang benar-benar menjalankan visinya sebagai institusi dengan visi kampus merdeka itu hanyalah ilusi dan omong kosong.

Bukan prestasi, tapi semua tentang untung rugi. Kita bisa buktikan, tak ada perubahan signifikan, baik metode belajar maupun fasilitas pelayanan ruang belajar dan administrasinya; yang aman dan merdeka.

Bagaimana mau menyelesaikan persoalan-persoalan besar, seperti kelompok eksklusivisme agama hingga pelaku pelecehan seksual; kalau yang memiliki mandat (sebagai generasi) perjuangan masih mengekor pada tuannya.


Tak jarang kita temukan tenaga pekerja di kampus yang masih ada ikatan keluarga, baik itu ideologis maupun biologis.

Hegemoni ini barangkali bisa didapatkan di banyak kampus di Indonesia. Masih bisa diterima, sepanjang itu dilakukan dengan profesional. Baik perihal distribusi anggaran pembangunan pendidikan maupun relasi antara tenaga pengajar dan mahasiswa.

Banyak kampus yang belum aware pada penyelesaian kasus pelecehan seksual di kampus, ragam kelompok minoritas agama dan gender. Bicara moderasi misalnya, tapi masih anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Aliran Kepercayaan, anti lgbt, dan anti anti lainnya.

Perihal pelecehan seksual misalnya, cerita ini semacam puncak gunung es dari kasus-kasus pelecehan seksual di kampus yang sudah jadi rahasia umum.

Bila kita ketik kata kunci “pelecehan seksual di kampus”, kita cukup mudah bisa membaca sejumlah tautan; baik dari portal berita maupun blog, yang memuat kejadian ini. Bentuk pelecehan itu cukup beragam, bisa bentuk verbal, catcalling, perilaku mesum, dan sebagainya.

Para pelaku umumnya memanipulasi relasi kuasanya sebagai dosen. Kampus juga terhitung lamban sih, bila tak ingin disebut gagal, mereformasi diri menciptakan lingkungan akademik yang sehat.

Sulit memang, hingga saat ini belum ada data komprehensif tentang kejahatan seksual di kampus. Sangat sulit untuk mengetahui seberapa sering prevalensi kejahatan seksual di lingkungan kampus, siapa pelaku dan siapa korbannya.

Namun, sebagaimana dilaporkan tirto.id, pada 10 Oktober 2017, bahwa dari email aduan yang pernah dibuka oleh Rifka Annisa, sebuah pusat krisis dan lembaga nirlaba yang berfokus pada penghapusan kekerasan terhaap perempuan berbasis di Yogyakarta, dalam satu bulan saja terdapat sebelas email yang melaporkan kejadian pelecehan seksual di kampus; tujuh di antaranya dilakukan dosen terhadap mahasiswanya.

Saya jadi teringat pada sebuah ikrar terhadap almamater peguruan tinggi, di mana terdapat empat kalimat yang cukup progresif dan mulia; 1. Mengamalkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, untuk kepentingan umat manusia dan alam serta lingkungan, dengan berpegang pada nilai-nilai keadilan dan kebenaran.
2. Bekerja dengan segala kemampuan, dilandasi dengan sikap ikhlas, jujur, terbuka, profesional, penuh pengabdian dan tanggung jawab.
3. Menjadi pelopor perdamaian, dan penebar semangat Islam rahmatan lil-alamin.
4. Menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan almamater.

Merujuk pada kutipan ikrar di atas, sebenarnya kampus terbilang serius menciptakan ruang aman dan merdeka.

Namun ironisnya, hanya poin 4 yang kerap dibanggakan; itu pun bagi saya, interpretasi para tenaga kerja kampus masih keliru. Atau mungkin saya yang keliru? Interpretasi mereka, menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan almamater itu hanya berlaku bagi alumni yang tidak ‘mengabdi’ di kampus, tapi bagi mereka yang masih mewakafkan waktu dan pikirannya (untuk kerja) di kampus, kehormatan ini hanyalah gincu dan sebagai dalih menutupi aib saja; demi kehormatan pemangku kebijakan didalamnya, bukan kehormatan kampus.

Jadi wajar jika poin satu sampai tiga jauh dari kata; tercapai dengan maksimal, toh memenuhi poin empat saja masih keliru pemahamannya. Sungguh ironis

Padahal, sepanjang pengetahuan saya soal teks-teks agama, menutupi suatu kebohongan dan tindak kejahatan itu adalah; Dosa Besar, bukan Do’a Besar. Tapi, kita semua telah lama abai dan mengesampingkan teks itu.

Hanya demi mempertahankan kelanggengan jabatan, tentu pendapatan juga sih. Sebagai alumni salah satu kampus negeri Islam, saya sudah lama merindukan perubahan signifikan dan progresif dari kampus tercinta itu; tapi sayang, justru tembok keangkuhan para pejabat kampus semakin kuat dan cerdas mengatasi kritikan dan upaya perbaikan sistem pendidikannya; sebagai kampus MERDEKA.

Semoga, suatu saat kampus benar-benar mentjapai kata; MERDEKA.


Penulis: Cahyono Anantatoer
Peneliti Elsa Semarang

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kampus Negeri Rasa Dinasti

Trending Now